Senin, 22 Maret 2010

Makhluk Berkesadaran

Enam menit menjelang pukul tujuh malam, tepat di perempatan Rawasari setelah Bypass Pramuka. Saya terjebak disini, lampu merah selama tiga menit, selalu. Hari ini sedikit berbeda, ada pemandangan yang menarik perhatian saya, sangat menarik. Seorang bapak paruh baya, mengenakan kemeja putih (atau yang tadinya putih hingga sekarang menjadi kecoklatan) lusuh sobek dan sangat dekil, celana pendek dengan kondisi yang tidak jauh beda dengan atasannya tanpa menggunakan alas kaki. Dan yang paling membuat mata saya fokus adalah dia membawa sebuah botol bekas air minum mineral yang diisi dengan banyak kerikil kecil, sangat lembut ia memegang botol bekas itu seolah teman lama yang sudah lama tidak bersua, kuasumsikan itu digunakan untuk mengamen, hidupnya bergantung pada botol bekas berisi kerikil itu. Dia berjalan tergopoh-gopoh di depan para pengendara yang sedang menanti lampu berganti merah ke hijau, termasuk saya, pelan dia berjalan dan terseok. Menyisir pinggiran bis untuk sampai ke trotoar seberang. Pemandangan itu hanya sekilas saja, sebentar, terlalu cepat. Namun sosok pria tua itu terus memenuhi pikiran saya sampai beberapa kilometer ke depan, sampai di rumah, sampai jari ini bertemu papan ketik di kamar saya. Saya iba, entah kenapa, malam itu saya iba. Pertanyaannya, apakah saya pantas iba? Saya sama sekali tidak mengenal pria tua itu, melihatnya pun baru pertama kali ini. Lantas kenapa saya bisa begitu iba? Sepanjang jalan pulang saya berpikir, membuat imitasi eksistensi si bapak dalam alam kesadaran saya, dan saya membuat latar sejarah si bapak hingga kehidupannya kini, sekarang saya adalah Tuhan bagi eksistensi palsu bapak tua tadi yang ada di pikiran saya.
Lalu saya teringat Jean Paul Sartre saat menerangkan hubungan antar manusia, perkataannya yang paling saya ingat “aku adalah makhluk berkesadaran dalam makhluk berkesadaran yang lain, dalam dunia wujud untuk wujud yang lainnya. Wujud untuk wujud lain memiliki dua bentuk” saya ingat benar teori Sartre yang itu, yang kemudian baru saya mengerti dari kasus si bapak tua. Kesadaran si bapak saya ciptakan dalam kesadaran saya sebagai makhluk kesadaran lain diluar eksistensi bapak tadi. Dengan kata lain, bapak itu memiliki dua wujud berkesadaran. Yaitu wujud dirinya sendiri berdasarkan kesadaran dan eksistensi sang bapak itu sendiri dan wujud yang kubangun berdasarkan kesadaran dan eksistensi diriku sendiri sebagai eksistensi lain. Eksistensi si bapak saya mainkan dalam alam pikiran saya sebagai sang pencipta wujud bapak tadi yang kedua, saya mainkan layaknya Tuhan memainkan bonekanya. Jahatkan saya? Saya tidak bisa menjawab itu, hidup bukanlah serangkaian repetisi. Evolusi pikiran manusia selama 10.000 tahun membuat penciptaan tak pernah usai, jika pemcipataan alam berhenti maka yang berjalan adalah penciptaan dari alam pikiran kita. Kita dapat bertindak sebagai Tuhan dalam pikiran kita, tidak terikat pada konsensus dan norma-norma yang terikat dalam realitas sosial. Saya menjadi sepenuhnya sadar atas diriku hanya ketika saya sadar bahwa saya adalah sesosok objek bagi persepsi orang lain. Dalam kasus si bapak, saya lah pengendali kesadaran itu. Dia tidak sadar bahwa dirinya diobjektifikasi oleh subjektif saya. Lantas bagaimana saya tahu bahwa diri saya terobjektifikasi atau tidak? Sartre menjawab hanya dengan menyadari bahwa saya adalah sebuah objek bagi orang lain, tubuh yang aktif dan diperuntukkan bagi persepsi dan asumsi orang lain. Kembali ke pertanyaan awal, pantaskah saya iba terhadap kondisi si bapak? Jawabnya YA!


-nyoman indra kresna wijaya, anggoro kasih, 20:37, 22 maret 2010-

Rabu, 20 Januari 2010

Semua Manusia Berbeda

Semua manusia berbeda, tidak ada manusia normal (biasa). Saya menyatakan semua manusia berbeda bukan saya menganggap semua manusia berbeda. Bila dilihat dari pernyataan pertama saya: saya menyatakan semua manusia berbeda, pada dasarnya setiap manusia (setiap individu) adalah berbeda. Mereka memiliki takdir, nasib, kemampuan, dan memiliki keterbatasannya masing-masing. Saya memang berbeda dengan anda, hal ini dapat dilihat dari kelebihan dan kekurangan antara saya dan anda. Berbeda dengan pernyataan yang kedua: saya menganggap semua manusia berbeda. Dalam pernyataan ini saya menganggap bahwa saya manusia normal (biasa) dan ada manusia yang berbeda dari saya. Apa patokan manusia dianggap normal? Apakah jawabannya adalah budaya?. Budaya adalah alat untuk mengatur tata perilaku hidup manusia. Budaya tercipta karena adanya kesepakatan bersama dalam masyarakat setempat. Betapa kejamnya budaya dalam mengatur eksistensi manusia. Pada dasarnya eksistensi adalah kebebasan.

Individu berhak menentukan pilihan mereka sendiri, bukan ditentukan. Budaya menciptakan manusia normal (biasa), sementara mereka manusia yang memiliki kelebihan maupun kekurangan menjadi manusia yang berbeda,.mereka tidak punya pilihan dalam menentukan keberadaannya sebagai manusia yang berbeda. Mereka di paksa mengikuti nilai budaya yang ada, tetapi tetap saja mereka tidak dapat mengikuti suatu ukuran yang normal (budaya) karena, diantara mereka ada yang memiliki kemampuan dibawah garis normal dan ada yang memiliki kemampuan diatas garis normal. Akibatnya mereka menjadi manusia yang dianggap berbeda oleh manusia normal (biasa). Kelebihan dan kekurangan keduanya dapat dianggap berbeda oleh orang lain. Orang yang memiliki kekurangan dianggap berbeda, orang yang memiliki kelebihanpun juga dianggap berbeda. Alhasil mereka yang memiliki kelebihan dan kekurangan, hidup dalam kesendirian dan kesedihan karena mereka berbeda dari yang lain.

Sangat disayangkan apabila kita menganggap diri kita sebagai manusia yang normal (biasa), itu sama saja kita telah menganggap kita yang normal dan mereka yang tidak normal. Hal ini juga telah menghilangkan eksistensi kita sebagai manusia. Karena pada asas pertama eksistensialisme Sartre berkata: Manusia tidak lain ialah bagaimana ia menjadikan dirinya sendiri. Apabila kita terikat oleh suatu ikatan normal (budaya) maka kita tidak dapat menjadi diri kita sendiri. Budaya telah mengatur hidup mereka dan telah membuat mereka sebagai manusia normal.

‘Apabila kau menemui seorang yang memiliki keterbelakangan mental, apakah kau akan beranggapan bahwa sayalah manusia normal? Dan apabila kau memiliki teman yang pemikirannya jauh kedepan dan berbeda dengan teman-temanmu, juga termaksud kau. Apakah kau menganggap ia orang yang tidak normal?’

Tidak ada manusia yang normal (biasa), semua manusia pada hakikatnya adalah berbeda. Saya bertemu dengan seorang yang tidak dapat melihat, maka saya menyatakan bahwa ia memang berbeda dengan saya. Saya tidak menganggap dia berbeda.

Mengakui perbedaan bukanlah suatu rintangan untuk mencapai keselarasan dan keharmonisan dalam hidup bersama, melainkan menganggap adanya suatu perbedaanlah yang dapat menciptakan ketidakserasian hidup antar sesama.

oleh: King Buana

Minggu, 17 Januari 2010

Elizabeth Bathory

Bosen ngebahas filsafat jadi sekarang temanya sejarah Eropa abad pertangahan aja yaa. Hmmm, pernah dengar nama Elizabeth Bathory gag? Kalo belum ini gue ada sedikit cerita tentang doi... silakan dibaca, itung-itung membunuh bosan. Hha.


(ini lukisan Elizabeth Bathory sat berusia 25 tahun)


Elizabeth Bathory merupakan pembunuh berantai terbesar dalam sejarah. Tercatat kurang-lebih 650 nyawa manusia melayang sia-sia ditangannya. Ini adalah pencapaian rekor pembunuhan berantaiu terbesar yang pernah dilakukan individu dengan korban terbanyak sepanjang sejarah umat manusia.
Elizabeth Bathory lahir di Hungaria pada tahun 1560, krang lebih 100 tahun setelah Vlad “the Impaler” Dracul meninggal. Kakek buyut Elizabeth adalah Prince Stephen Bathory yang merupakan salah satu ksatria yang memimpin pasuka Vlad Dracul ketika ia merebut kekuasaan di Wallachia seabad sebelumnya. Orangtua Elizabeth, George dan Anna Bathory adalah bangsawan yang kaya raya dan merupakan salah satu keluarga ningrat yang paling berpengaruh di Hungaria pada masa itu, keluarga besarnya juga terdiri dari orang-orang terpandang. Bahkan pamannya, Stepehen kemudian menjadi raja Polandia. Namun rupanya keluarga Bathory memiliki sisi gelap yang misterius selain segala kekayaan dan popularitasnya, disebutkan bahwa salah satu kerabatnya adalah seorang Satanis dan penganut Paganisme, sementara sepupunya yang lain memiliki kelainan jiwa dan gemar melakukan kejahatan seksual.
Pada tahun 1575, di usia 15 tahun Elizabeth menikah dengan Count Ferencz Nadasdy yang 10 tahun lebih tua darinya. Karena suaminya berasal dari ningrat yang lebih rendah, maka Count Ferencz Nadasdy menggunakan nama Bathory dibelakangnya. Dengan demikian Elizabeth bisa tetap menggunakan nama keluarganya yaitu Bathory dan tidak menjadi Nadasdy. Kedua pasangan tersebut tinggal di Kastil Csejthe, yang merupakan sebuah kastil diatas pegunung dengan desa Csejthe dilembah bawahnya. Suaminya jarang mendampingi Elizabeth karena Count Ferencz lebih sering berada di medan pertempuran melawan Turki Usmani (Ottoman). Ferencz kemudian menjdai terkenal karena keberaniannya di medan pertempuran dan dianggap sebagai pahlawan Hungaria dengan julukan “Black Hero of Hungary”.
Elizabeth yang masih muda tentu senantiasa merasa kesepian karena selalu ditinggal sang suami. Disebutkan dia memiliki kebiasaan mengagumi kecantikannya dan kemudian memiliki banyak kekasih gelap yang melayaninya selama sang suami tidak berada di tempat. Elizabeth bahkan pernah melarikan diri bersama kekasih gelapnya namun kemudian
kembali lagi dan suaminya memaafkannya. Tapi hal tersebut tidak mengurangi ketagihan Elizabeth akan kepuasan seksual. Disebutkan juga Elizabeth menjadi seorang biseksual dengan melakukan hubungan lesbian dengan bibinya, Countess Klara Bathory. Elizabeth kemudian mulai terpengaruh dengan Satanisme yang diajarkan oleh salah satu pelayan terdekatnya yang bernama Dorothea Szentes atau yang sering disebut Dorka. Karena pengaruh Dorka, Elizabeth mulai menyenangi kepuasan seksual lewat penyiksaan yang dilakukan terhadap pelayan-pelayan lainnya yang masih muda. Selain Dorka, Elizabeth juga dibantu oleh beberapa pelayan lainnya, yaitu, Suster Iloona Joo, pelayan pria Johaness Ujvary dan seorang pelayan wanita yang bernama Anna Darvula, yang merangkap sebagai kekasih Elizabeth.
Bersama para kru Sado-Masokis nya, Elizabeth mengubah Kastil Csejthe menjadi pusat teror dan penyiksaan seksual. Para gadis muda yang menjadi pelayannya menjadi korban dengan berbagai cara penyiksaan, mulai dari diikat, ditelanjangi lalu dicambuk dan menggunakan berbagai alat untuk menyakiti bagian-bagian tubuh tertentu. Pada tahun 1600, suaminya Count Ferencz meninggal dunia, dan era teror yang sesungguhnya baru dimulai. Memasuki umur 40 tahun, kecantikan Elizabeth mulai memudar. Kulitnya menunjukan tanda-tanda penuaan dan keriput yang sebenarnya wajar pada usianya. Namun Elizabeth adalah pemuja kecantikan dan ia akan melakukan apa saja untuk mempertahankan kecantikannya. Suatu saat seorang pelayan sedang menyisir rambutnya dan tidak sengaja menarik rambut Elizabeth terlalu keras. Elizabeh yang marah menampar gadis malang tersebut dan darah memancar dari hidung si pelayan kemudian mengenai tangan Elizabeth, saat itu ia “percaya dan menduga” bahwa darah gadis muda tersebut memancarkan cahaya kemudaan mereka. Kemudian ia memerintahkan kedua pelayannya Johaness Ujvary dan Dorka menelanjangi gadis tersebut, menarik tangannya keatas bak mandi dan memotong urat nadinya. Ketika si gadis mati kehabisan darah, elizabeth segera masuk ke dalam bak mandi dan berendam dalam kubangan darah.
Elizabeth menemukan apa yang dipercayanya sebagai “rahasia awet muda”. Ketika semua pelayan mudanya sudah mati, Elizabeth mulai merekrut semua gadis desa disekitar kastilnya untuk menjadi pelayannya. Dapat diketahui nasib mereka selanjutnya, mereka diikat diatas bak mandi kemudian urat nadinya dipotong hingga darah mereka menetes habis ke dalam bak mandi. Seringkali Elizabeth berendam di dalam kolam darah sambil menyaksikan korbannya sekarat meneteskan darah hingga meninggal, bahkan sesekali Elizabeth meminum darah para gadis korbannya tersebut. Lama kelamaan, Elizabeth merasa bahwa darah para gadis desa tersebut masih kurang baginya. Demi mendapat darah yang lebih berkualitas ia menculik para putri bangsawan rendahan dan melakukan hal yang sama dengan para korban sebelumnya, semakin lama penculikan yang dilakukan oleh Elizabeth semakin sering. Namun hal itu justru menjadi bumerang bagi dirinya, karena hilangnya para gadis tersebut dengan cepat mendapat perhatian di kalangan bangsawan, orang-orang berpengaruh hingga raja Hungaria sendiri.
Tanggal 30 Desember 1610, sepasuka tentara dibawah pimpinan sepupu Elizabeth sendiri menyerbu Kastil Csejthe di malam hari. Mereka semua terkejut melihat pemandangan yang mereka temukan di dalam kastil tersebut. Mayat gadis yang pucat kehabisan darah tergelatak diatas meja makan, seorang gadis lagi yang masih hidup namun sekarat ditemukan terikat di tiang dengan kedua urat nadi disayat hingga meneteskan darah, di ruang mandi ditemukan tiang tempat lilin yang diujungnya terdapat beberapa kepala yang masih segar menetaskan darah, dibagian penjara ditemukan belasan gadis yang ditahan menunggu untuk dijadikan korban berikutnya. Kemudain diruang bawah tanah ditemukan lebih dari 50 mayat yang sebagian besar sudah mulai membuasuk. Selama pengadilan atas Elizabeth Bathory di tahun 1611, sekurang-kurangnya 650 daftar nama korban yang didapat dari laporan berbagai pihak, mulai dari keluarga petani hingga dari keluarga bangsawan. Elizabeth sendiri tidak pernah didatangkan secara langsung untuk menjalani persidangan, hanya ke-empat pelayannya yang didatangkan dan kemudian dihukum mati. Namun, Elizabeth mendapat hukumannya juga, Raja Hungaria memerintahkan Elizabeth dikurung di dalam kamar kastilnya sendiri selama sisa hidupnya, para pekerja kemudian dikerahkan untuk menutup semua pintu dan jendela ruang kamar Elizabeth dengan tembok hingga hanya menyisakan lubang kecil yang digunakan untuk memasukkan makanan dan minuman sehari-hari.
Tahun 1614, atau empat tahun setelah Elizabeth di-isolasi di tembok kamarnya sendiri, seorang penjaga melihat makan yang disajikan untuk Elizabeth tidak tersentuh selama seharian. Penjaga itu kemudian mengintip ke dalam dan melihat sang Countess tertelungkup dengan wajah dilantai, Elizabeth Bthory “the Blood Countess” meninggal di usia 54 tahun. Bahkan Vlad Dracul tidak pernah berkubang dalam darah atau meminum darah. Oleh sebab itu, julukan “Vampir” sebenarnya lebih cocok untuk Elizabeth Bathory.


ini gambaran saat Elizabeth menikmati waktu mandinya.





diposting oleh: si nyombek...

Minggu, 03 Januari 2010

Antropologi, ilmu yang diciptakan dari dan untuk orang jahat

Dulu orang-orang kulit putih bepergian keliling dunia. Tau kan tujuannya? Yah disingkat ajalah jadi Gospel, Gold, Glory. Mereka berkunjung ke somewhere in nowhere. Ketika mereka sampai, tiba-tiba. Jeng jeeeeeenggg. “apaan nih? Kok beda banget sama tempat kita? Eh ini alien atau apa? Kok mereka kulitnya hitam? Ih itu mereka ngapain?? Aneeeeh!” lalu bangsa pucat itu mencatat segala yang mereka anggap aneh itu untuk diceritakan ke negaranya.

Gospel, Gold, dan Glory sering bikin rusuh! Bangsa pucat itu ternyata cacat! Mereka buta semua. Dibutakan oleh obsesi sampai mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan. Sementara orang-orang yang dibilang aneh tadi menjadi korban dan dijadikan lemah melalui STRATEGI orang-orang kulit putih itu. Catatan mereka berisikan hal-hal berbau kebudayaan. Catatan macam ini, kalo istilah kerennya sekarang disebut etnografi. Dan catatan-catatan ini bisa dibilang cikal bakal ilmu yang sedang kita pelajari, Antropologi.

Tau apa tujuan mereka membuat catatan etnografi? Ya apalagi kalau bukan untuk memuaskan obsesi mereka yang suci itu, Gospel, Gold, Glory. Kalo udah tau budaya bangsa jajahan, mereka akan mencari celah untuk bisa menguasai daerah jajahan. Contohnya Belanda. Mereka mempelajari etnografi Indonesia, terus dia turlap (fieldwork) buat dapetin kekuasaan. Dulu tuh ceritanya Belanda ngedeketin pemimpin-pemimpin kita. Laluuuu… mereka “nyuruh” pemimpin Indonesia untuk buat kebijakan yang memeras rakyat. Misalnya tanam paksa. Sebenarnya mereka tau bahwa kebijakan itu sama sekali gak bijak! Tapi pihak Belanda dengan segala kemunafikannya menjanjikan keuntungan yang besar untuk pemimpin itu kalo dia mau melakukannya. Yaaa… istilah kasarnya disogoklah. Tolol banget gak sih! Kalo dianalogiin nih ya, si cebol (pemerintah) punya 2 permen dan 1 emas. Terus 1 permen diumpetin sama siamang (Belanda) tapi si cebol gak tau. Terus tiba-tiba siamang datang minta emas yang dipunyain cebol dengan ngasih permen yang tadi diumpetin. Dan ajaibnya si cebol bilang,”aku mauuuuuuuuu, nih emasnya” that’s stupid isn’t it? Disogok pake harta milik sendiri. Tau apa penyebabnya? Karena mereka mempelajari Antropologi.

Amerika juga pernah begitu, dan mungkin masih begitu sampe sekarang. Masih inget gak yang waktu itu kita disuruh review budaya politik sama mas adit? Di kertas itu diceritain kalo Ruth Benedict dipekerjakan militer AS untuk mempelajari kebudayaan Jepang. Kira-kira begini ceritanya.

Disuatu ruang rapat, di meja bundar. isinya militer AS (Roger, Burger, Peter, Spidol Marker) dan ada mbak Ruth Benedict juga

Roger : eh gimana nih guys, kita ngebom Tokyo aja yuuu, kayaknya seru tuh kalo kaisarnya mokat?
Spidol Marker : wah boleh-boleh. Nanti gue yang bawa nuklir deh
Peter : yaudah, nanti gue yang bawa rantang sama tiker
Burger : waah, indahnyaaaa.. nanti gue bawa kue lapis ya guys. Masakan ibuku enak deh!
Si Ruth tiba-tiba ngerusak suasana.. Ruth Benedict menghembuskan angin tornado dari bokongnya. Yak dia kentut! *enggak deng, boong*
Ruth : jangaaaaaan! Tau gak sih looo, kmrn tuh gue turlap. Dari data yg gue dapet, orang-orang Jepang bakalan ngamuk kalo kaisarnya metong. Yang ada entar elu dikeroyok masa, mao? Nyaho lo pada!
Mereka semua : apaaah? Jadi kita harus berbuat apa? (sambil nangis Bombay ala bencong) hiks hiks,, iiih Ruth, kamu nakal!
Ruth : mendingan lo ngebom Hiroshima sama Nagasaki aja. Nanti Jepang kalah deh, suwer!
Militer AS : OKE, LET’S GO!

Benar saja, setelah kedua kota tadi di bom. Jepang menyerah tanpa syarat dan PD II meredam. Berjasa sih yaaa “kayaknya.” Antropologi menghentikan perang dunia! Tapi kan tetep aja, berapa orang yang mati di 2 kota tadi? Terus berapa orang cacat di Jepang dan sekitarnya yang sampe sekarang masih kena radiasi nuklir? (fyi: katanya malah ada yang bisa ngeliat nembus tembok gara2 radiasi nuklir ini).

Mari beralih ke jaman modern sekarang ini. Mereka yang awam pasti akan bingung, emangnya antropologi kerjanya jadi apaan sih? Tapi mereka yang expert bisa menyusup di berbagai bidang seperti politik, budaya, perbankan, pemerintahan, pariwisata, biologi, kedokteran, religi, hukum, dll. You know what? They do exist in hidden mission!
Kalo di politik, coba kita liat ke bapak presiden kita si ‘biru besar’  (gak boleh nyebut merk, nanti dituntut kayak pritta lagian, kalopun iya bantuin gw ngumpulin koin ya :P)

Beliau punya seorang penasehat. Tau siapa? Dia alumnus antropologi. Tujuannya? Lagi-lagi, gak usah ditanya, pasti buat hal licik politik yang biasa disebut “strategi politik” blah blah blaaah.. misalnya buat bikin citra si biru bagusss gitu dimata rakyat biar yang milih dia jadi banyak. Lumayan licik kan?

Kalo yang paling nyata nih yang sering gw liat sih di bidang ekonomi. Dan semuanya berkaitan sama kapitalisme, prestise, dan konsumerisme. Ketiga hal ini di-mix melalui blender Antropologi menjadi satu kesatuan yang kita sebut BRAND. Gucci, Dolce Gabbana, Prada, Calvin Klein dan lain-lain. Menurut kalian apa yang bikin mereka bisa sehebat ini? Sebut saja mereka menjual sampah dengan STRATEGI yang hebat sehingga bisa laku dengan harga yang mahal, padahal bisa jadi bahan bakunya gak semahal itu. Itu semua karena mereka mempelajari kultur konsumen! Dan salurannya, tentu saja Antropologi.
Misalnya lagi Indomie, mereka mempekerjakan Antropolog supaya mie mereka bisa laku dijual di Papua yang tentu saja makanan mereka bukan mie, tetapi umbi-umbian (mayoritas) dan kemungkinan besar produk tersebut akan ditolak. Tapi hebat, mereka semua membuat sesuatu yang gak penting jadi penting sehingga selalu dibutuhkan dan voila! Mereka untung besar melalui ilmu yang sedang kita pelajari ini.
Will we become like that? (worrying)

-lina, antrop ui 09-

Rabu, 23 Desember 2009

dari ajaran Marx ke Marxisme




Marxisme – Manifesto Komunis
Dalam bukunya Marx mengungkapkan bahwa konflik antar kelas atas (kaum Borjuis) dan kelas bawah (kaum Proletar) akan memuncak dalam sebuah revolusi yang akan menjungkirbalikan seluruh tatanan lama dan meletakkan dasar tatanan baru yang akan berkembang menurut hukum yang sama. Oleh karena itu, Manifesto Komunis (1848) menyatakan bahwa “sejarah semua masyarakat sampai sekarang adalah sejarah perjuangan kelas”. Tekanan kompetisi memaksa para Kapitalis untuk terus mempertajam eksploitasi buruh-buruh mereka. Justru dengan demikian, Kapitalisme menggali kuburannya sendiri. Kelas buruh semakin miskin dan sekaligus makin bertambah bayak, sedangkan kaum Kapitalis akan makin kaya dan surplus akan barang produksi dan membuat kaum Kapitalis tidak dapat menjual barang hasil produksinya. Saat itulah kaum buruh akan bangkit dan mengambil alih sistem, dengan demikian menciptakan masyarakat yang tanpa kelas, tanpa explotation i’homme par i’homme dan tanpa penindasan masyarakat komunis.

Dari Ajaran Marx ke Marxisme

Pada akhir abad lalu, hampir semua partai buruh Eropa mendasarkan diri pada Marxisme. Dalam proses ini ajaran Marx disederhanakan dan dibakukan menjadi beberapa pokok saja: paham bahwa sejarah dunia tidak dikendalikan oleh kehendak manusia, melainkan oleh tingkat perkembangan tenaga-tenaga produktif, bahwa Kapitalisme akan tumbang, bahwa revolusi sosialis tinggal menunggu matang kondisi-kondisinya. Ajaran Marx telah berkembang dan direduksi pada kepercayaan ekonomi perkembangan masyarakat: ia telah menjadi suatu ideologi “Marxisme” yang disakralkan sebagai “ideologi kelas pekerja”. Ideologi yang dipercayai dan dianut oleh oleh mayoritas Eropa di masa itu. Mencakup segala aspek baik sosial, ekonomi dan budaya, dan dilaksanakan secara konstan dan berkomitmen sesuai dengan unsur-unsur yang dimiliki suatu paham agar dapat disebut sebagai Ideologi. Segala keragu-raguan atau revisi dianggap sebagai hal yang tabu. Marxisme telah menjadi monopoli gerakan komunis internasional setelah terjadinya Revolusi Oktober, ditandai dengan partai-partai Sosialis non-Komunis yang menjuhkan diri dari paham Marxisme.

Dualisme Marx
Keprihatinan Marx terhadap pemulihan manusia sebagai makhluk sosial dan natural, emansipasinya dari kekuatan-kekuatan anonim yang menjadikannya sebuah komoditi, kritik terhadap segala ideologi-ideologi yang menyembunyikan sekaligus melegitimasikan struktur-struktur kekuasaan yang eksploitatif. Daripada seorang Determinis dan Ekonomis, Marx lebih muncul sebagai seorang Humanis. Akibat dari pemikiran Marx yang semakin menarik perhatian filsafat dan ilmu-ilmu sosial di Barat, bagi generasi intelektual muda dan mahasiswa tahun 60-an Marx menyediakan pemikiran kritis untuk mengartikularisasikan perasaan tidak suka mereka terhadap kebudayaan “Kapitalisme tua” yang nampak meterialistik dan tanpa makna. Pada tahun 70-an pesona Marx di Barat mulai memudar. Marxisme baru tidak pernah berhasil memasuki kalangan buruh, ia tetap terbatas pada lingkungan akademik saja. Kapitalisme Barat memaksa Marxisme baru itu untuk mengalihkan kritik Marx yang pada hakekatnya bersifat sosiologis dan ekonomis menjadi kritk budaya dan moral yang mengeluhkan kekurang-manusiaan masyarakat Kapitalis.

Ramalan yang meleset
Bila kita mau mengevaluasi pikiran Marx, sebaiknya kita mulai dari fakta yang mencolok: bahwa ramalan tentang runtuhnya Kapitalisme meleset total. Ternyata tidak satupun dari negara-negara industri maju mengalami revolusi. Revolusi Sosialis nyatanya semua terjadi dalam negara-negara yang masih agraris dan semi-feodal. Konsep komunisme yang tadinya digadang-gadangkan dapat memimpin revolusi kaum buruh nyatanya mulai ditinggalkan oleh negara yang menganut sistem tersebut. Melesetnya ramalan ini merujuk pada sebuah titik lemah dalam seluruh pemikiran Marx. Analisa sosiologis-ekonomis Marx mengenai sebuah gejala, misalnya Kapitalisme, sering tepat bahkan cemerlang. Akan tetapi sesudahnya ia condong menarik kesimpulan-kesimpulan yang mutlak dan karena itu ideologis. Dengan tepat Marx menganalisa konflik kepentingan antara pemilik modal dan buruh, tetapi ia tidak memperhatikan bahwa ada juga kepentingan bersama. Ternyata berbeda dengan ramalan Marx, kaum buruh berhasil memaksakan perubahan-perubahan mendalam pada suatu struktur kekuasaan perekonomian Kapitalis, dengan akibat mereka makin terintegrasi di dalamnya dan menjadi unsur yang penting.

Yang tertinggal dari Marx
Marx menawarkan sebuah kerangka sederhana, di dalamnya segala kompleksitas dunia sekarang direduksikan pada beberapa alternatif yang sederhana. Tetapi, Marx bukan untuk dipercayai sepenuhnya, melainkan untuk digeluti. Justru kerena ia dijadikan acuan, kemiringan-kemiringan fundamental dalam pemikirannya perlu diekspos lebih mendalam dan dicabik agar lebih terbuka. Marx membuka mata ilmu-ilmu sosial bagi pentingnya pendekatan struktural dan pentingnya analisa kelas. Berkat Marx kita menjadi sadar bahwa bidang perekonomuan memang sangat berpengaruh pada struktur kekuasaan politik dan bahkan pada cara pandang masyarakat dalam mengahayati nilai-nilainya. Kritik ideologi mendapat dorongan yang paling penting.

nah, demikian postingan dari gw. salam.
nyombek.


oia, ini pic dari oom Marx yang sempet bikin heboh dunia barat.



diposting juga di http://nyuombek.blogspot.com/

Sabtu, 19 Desember 2009

Don Quixote de La Mancha


Tadinya gue mau review buku “THE CRITIQUE OF PURE REASON” karyanya Immanuel Kant, tapi karena bukunya tebal dan bahasa Inggrisnya lumayan susah jadi gue belom bisa kasih review. Nah karena itu gue ganti aja jadi review buku “DON QUIXOTE DE LA MANCHA” karya Miguel de Cervantes, menarik karena buku ini menjadi bacaan wajib bagi para masiswa sastra dan bagi para komunitas sastra Eropa. Salah satu karya yang mempengaruhi perubahan dunia dan masuk dalam jajaran 100 buku terbaik yang pernah diterbitkan, 100 buku terbaik itu termasuk juga “THE WHEALT OF NATIONS” karya Adam Smith, “CAPITAL” karya Karl Marx “THE GREAT GATSBY” karya F. Scott Fitzgerald dan “THE ORIGIN OF SPECIES, BY MEANS OF NATURAL SELECTION, OR THE PRESERVETION OF FAVOURED RACES IN HTE STRUGGLE FOR LIFE” karya Charles Darwin.

Miguel de Cervantes lahir pada 9 Oktober 1547, merupakan putra dari ahli fisika dan apoteker. Keluarganya mengalami masalah ekonomi yang cukup pelik, namun berangsur membaik setelah pindah ke Madrid pada 1566. Pertama menulis pada umur 21 tahun, menulis beberapa ayat tentang kematian Isabel de Valois, istri dari Philip II, karya yang cukup diperhatikan pada masa itu. “Don Quixote de La Manca” pertama terbit pada 1605, mendapatkan sukses luar biaa dan para kritikus buku mengatakan bahwa buku ini melebihi batas luar biasa. Pada 23 April 1616, Miguel de Carvantes meninggal. Kesedihan yang mendalam bagi dunia sastra pada ssat itu.

Cervantes sendiri adalah seorang petualang buku, berbagai buku telah dilahap habis. Ia menguasai bacaan latin klasik, mendalami bacaan sejarah berbagai bangsa, buku filsafat dan retorika dikuasainya dan tidak ketinggalan buku-buku teologi, geografi dan astrologi.

Pengetahuan yang dimiliki Cervantes keluar begitu saja ketika ia menghidupkan tokoh Don Quixote, itulah sebabnya Don Quixote bisa bicara panjang lebar tentang Amadis de Gaul yang merupakan kisah kepahlawanan favorit Don Quixote sebagai teladan bagi para ksatria pada zaman itu.

Tokoh utama dalam kisah ini adalah Don Quixote, seorang yang amat sangat gila baca, bagi dirinya realitas terjadi saat imajinasinya bermain dalam dunia buku. Hanya realitas yang bisa melawan dan menggugurkan pikiran. Tapi dalam “Don Quixote de La Mancha” yang terjadi justru sebaliknya, realitaslah yang harus tunduk pada bacaannya. Karikatur kegilaan seorang pembaca, menurut realitas ia kehilangan akal, tapi mneurut bacaan dan karena bacaan ia justru mempeoleh akal, bahkan kepercayaan. Kesukaannya dalam membaca kisah-kisah Amadis de Gaul membuat dia mengkonsepkan dirinya (dalam pikirannya) adalah seorang ksatri abad pertengahan, pikiran ini yang kemudian menjadi realita bagi dirinya membuat ia mengubah namany menjadi lebih “bangsawan” namanya yang hanya Don Quixote (ada beberapa opini yang mengatakan Cervantes mengambil nama “Quixote” dari “Quixada atau Quesada”) kemudian ditambahkan menjadi Don Quixote de La Mancha dapat diartikan sebagai “Tuan Quixote, sang penguasa La Mancha” cukup terdengar gentleman bagi seorang warga biasa.

Nama sudah didapatkan dan peralatan perang sudah (jubah, perisai, tombak dan kuda milik keluarga yang dicuri) maka yang dibutuhkan sebagai seorang ksatria adalah seorang lady. Masalahnya kebiasaan Don Quixote larut dalam dunia baca membuatnya jarang bergaul dan tidak punya teman maka dibuatlah seorang lady dalam alam pikirannya, seorang lady yang tercantik, penjelmaan bidadari sendiri, Lady Dulcinia de Toboso. Ditambah lagi kehadiran seorang budak yang setia menemani Don Quixote yang bernama Sancho Panza. Mulailah petualangan penuh keberanian, konyol dan satir namun menyentuh nurani para pembacanya, petualangan Don Quixote de La Mancha.

Salah satu adegan yang menarik adalah saat Sancho Panza mengatakan pada Don Quixote yang salah mengira bahwa kincir angin adalah raksasa jahat “maaf beribu maaf tuan, namun yang anda hadapi sebagai raksasa itu hanyalah kincir angin tua milik seorang petani lokal tuan”. Namun perkataan yang penuh dengan realitas itu tidak digubris oleh Don Quixote dan dia tetap menyerang kincir angin itu. Adegan lain adalah saat ia memaksa para pedagang pasar untuk percaya bahwa kekasihnya Dulcinia de Toboso itu maha cantik luar biasa, meski para pedagang tersebut belum pernah dan tidak akan bertemu dengan wanita itu. Don Quixote memaksa mereka untuk mempercayai, mengakui bahkan bersumpah mengenai hal itu.

Itulah cara berpikir dari orang yang telah membentuk realitas dari bacaannya, tiap gagal ia tidak mencari realitas yang berlaku pada dunia ini tetapi ia mencari jawaban dan berlari ke buku. Konyol memang, tetapi dapat dilihat betapa dahsyatnya daya suatu bacaan. Memang, jika ingin mengubah dunia upaya itu harus kita mulai dengan mengubah pikiran sendiri. Bagaimana kita mengubah pikiran kita dengan membaca. Itulah pesan dari kisah Don Quixote, karikatur seorang yang gila baca dan memiliki dunia dengan bacaannya.

Mungkin posting berikutnya masih belom bisa posting “The Critique of Pure Reason” tapi bakalan buku “The Dialogues of Plato”.

Cheers.

*juga diposting di www.nyuombek.blogspot.com




nyombek

Kamis, 10 Desember 2009

Mimpi-Mimpi Einstein (Alan Lightman)

Susunan kata-kata yang indah di dalam buku ini, membawa kita teralun ke dalam imajinasi, membawa kita melewati ruang dan waktu tanpa batas memasuki pikiran batin seorang Einstein. Membuka mata kita mengenai realitas, satu fakta yang baru kita sadar saat kita membaca tulisan-tulisan di buku ini. Satu teori besar, Teori Relativitas Waktu penemuan Albert Einstein dikemas ke dalam satu novel imajinatif yang membuat kita mengerti apa itu relativitas waktu. Buku ini menyampaikan gagasan-gagasan Einstein dengan baik, sangat memperlihatkan kejenakaan intelektual Einstein. Kalimat-kalimat ganjil dalam buku ini sangat penuh rahasia, dan cerdas bagaikan puisi.

Satu Dunia yang tidak pernah kita terbayangkan ada. Satu gambaran akan dunia yang abstrak dimana waktu banyak bentuknya, waktu di dalamnya sangat teracak-acak. Satu dunia tanpa masa depan, tanpa masa kini, dan tanpa masa lalu, satu dunia memiliki waktu dimana-mana, satu dunia yang hanya memiliki satu hari, satu dunia yang tidak ada waktu, satu dunia dimana waktu terhenti, satu dunia dimana orang-orang didalamnya hidup selamanya. Diceritakan dengan jelas orang-orang yang berada di dalam dunia itu ikut terbawa waktu, tatanan sosial yang terjadi apabila waktu memiliki sifat sedemikian relatif. Dunia-dunia abstrak seperti ini yang tidak akan kita temukan walaupun pada lukisan surealis karya Salvador Dali, suatu teori yang dengan unik dibentuk dan dikuaskan dengan indah dalam satu buku.

Dunia berbentuk lingkaran, semua orang di dalamnya mengikuti lingkaran tanpa berubah sedikitpun, apakah anda tidak sadar bahwa selama ini kita berada di dunia seperti ini? Sadarkah anda, anda hanya melakukan hal yang sama tiap hari, hal yang berulang-ulang setiap hari? kebanyakan dari kita tidak sadar, seorang mahasiswa tidak sadar bahwa hari ini dia hanya akan berangkat dari tempat tinggalnya menuju kampus dan belajar, seorang dosen tidak sadar hari ini dia hanya akan berangkat dari tempat tinggalnya menuju kampus dan mengajar. Salah satu kalimat di dalam buku ini yang saya kira cukup mewakilkan kehidupan rutin banyak orang.

-moi